Sejak kapan kamu tau kalau arah laju MRT berlawanan dengan arah jalan raya?
Hal kecil yang membuat gue skip adalah ketika gue baru tau kalau MRT itu jalannya lawan arah. Hal lainnya yang baru gue tau juga kalau stasiun Lebak Bulus sudah bukan Grab lagi. Kalau dari artikel yang gue baca, Grab membeli hak penamaan selama 5 tahun dari 2019 di stasiun Lebak Bulus senilai 33 Miliar. Wow, pasti ada andil dari uang grab food gue. Anaknya pernah jajan grab food sampe hampir 2 jt sebulan. Nangis. Tapi ngga apa-apa, gue menganggapnya sebagai “upaya dalam menggerakan roda perekonomian Indonesia” walaupun udahannya cukup nyesek ya kak.
Apa lagi hal kecil yang membuat lo merasa skip dengan keadaan saat ini? Pasti banyak dan ada aja yang luput dari penglihatan kita. Minggu lalu dari tulisan ini gue posting, gue menerapkan detox screen time. Jadi gue memang sengaja tidak mengantongi smartphone dan gue taro aja di tas. Karena kalau gue taro di kantong pasti muscle memori gue akan secara tidak sadar merogoh kantong dan membuka layar smartphone. Sebisa mungkin saat itu gue menikmati hal-hal yang ada di sekitar gue. Mata gue menyapu semua pandangan yang ada di sekitar gue saat itu. Gue memperhatikan aktifitas orang-orang yang ada si stasiun MRT BNI dengan segala macam kehebohannya, ada yang merasa kelelahan setelah olahraga di CFD, bahkan ada juga yang kekenyangan karena konsep CFD nya berawal dari lari ditutup dengan sarapan pagi. Semua pemandangan yang hilang dari perhatian gue bisa dengan secara sadar gue nikmatin dan memberikan perhatian lebih dalam terhadap apa yang gue lihat.
Sebagai orang yang sangat suka membuat konten, memang konsumsi layar ponsel gue sangatlah besar. Memang tidak sebesar jaman pandemi sih. Kalau sekarang paling tinggi bisa mencapai 9 jam, tapi ketika pandemi gue pernah berada di angka 20 jam. Ngga bener, dan akhirnya burnout sendiri. Awal dari kesadaran gue untuk mengurangi screen time ini adalah berangkat dari bulan Desember yang di mana gue merasa gue kurang “saat ini” konsep hidupnya. Lalu gue mencoba membedah aktifitas apa saja yang bisa membuat diri gue berada di saat ini. Ternyata banyak hobi yang gue punya tidak tersalurkan dengan baik. Jelas yang pertama adalah menulis, terlihat jelas tulisan gue di blog ini jarak postingnya sangat jauh. Lalu yang selanjutnya adalah membaca, gue udah lama banget ngga buka buku kertas. Tekstur kertas dan aromanya seperti nyaris lupa bagaimana rasanya. Lalu ngobrol dengan teman-teman yang ada di lingkaran pertemanan gue, penting karena selama ini gue cuma menjangkau mereka melalui DM instagram. Bukan whatsapp tetapi instagram. Akhirnya gue menyimpulkan untuk membuat sebuah konsep hidup di 2025. Belajar dari dar der dor nya 2024 gue menerapkan Slow Living namun Fast Respond.
Akan muncul pertanyaan “maksudnya gimana Do?”
Gue akan sangat melambatkan pergerakan gue di setiap harinya. Kalau tidak perlu ya ngapain gue pikirin? Kalau tidak perlu gue kerjakan saat ini, akan gue respon untuk memberikan jeda terhadap diri gue. Kalau memang belum saatnya kenapa harus gue bikin strategi untuk segera. Dan masih banyak what if what if lainnya yang mengharuskan gue menarik tuas rem supaya gue bisa menikmati setiap detik momen di dalam kehidupan gue. Wah gila sih ketika lo baru tau kalau menyapu dan cuci piring itu sangat menyenangkan. Kemana aja lo Do kalau hunian lo itu tempat istirahat paling nyaman di muka bumi ini? Dan gue baru sadar AC ruang tengah berfungsi dengan baik karena jarang gue pakai dan gue cuci. Yang parahnya lagi ketika gue audit tagihan bill, gue baru tau kalau tagihan streaming musik, streaming film berjalan bersamaan tetapi ngga maksimal gue gunakan yang akhirnya gue memutuskan untuk stop berlangganan beberapa layanan dan saat ini gue hanya menggunakan layanan HBO MAX (karena ada Harry Potternya) yang sekali bayar untuk 3 bulan, lalu rencana gue akan langganan Netflix tetapi untuk device aja karena gue anaknya ngantukan kalau nonton di TV. Yup, se skip itu gue dengan terlalu cepatnya otak dan pergerakan gue di tahun-tahun sebelumnya. Padahal buat apa juga gue pikirin dan rencanain kalau memang ada yang namanya tombol stop, pause di sebuah pemutar video atau musik.
Sebenarnya banyak cara untuk gue bisa memaksimalkan hidup slow living ini. Masih dalam tema “ke-skip-an gue di The Sims Dodo Harahap version ini” yaitu ketika gue memperhatikan lebih dalam smartphone yang gue punya. Gue baru sadar sesadar-sadarnya bahwa fitur-fitur di smartphone gue sangat menunjang kebutuhan penggunanya untuk slow living. Selama ini gue kurang memaksimalkan fitur don’t disturb, focus, dan screen timer. Yang di mana semua fitur itu sangat mendukung penggunanya untuk menjauh sebentar dari smartphone. Sebuah kebiasaan baru yang sekarang gue lakukan adalah ketika gue berada di rumah pasti langsung gue airplane mode, gue hanya mengaktifkan wifi. Jadi gue akan sangat terhindar dari telpon sales marketing apapun. Lalu ketika gue berjalan keluar rumah pasti ada momen gue aktifin don’t disturb atau driving. Ada satu fitur focus personal tetapi belum gue custom karena gue butuh mengulik lebih dalam. Oiya gue juga mengatur jam sleep mode di smartphone. Jadi ketika sudah masuk jam gue tidur maka dengan sendirinya smartphone gue akan berubah menjadi sleep mode yang dimana semua pesan yang masuk tidak akan muncul notifikasinya. Untuk para klien harap maklum hehehe kita bertemu di pagi hari ya 🙂
Ternyata smartphone yang menjadi distraksi fokus kita sudah menyediakan layanan atau fitur fokus dan pengalihan gangguan di gawai itu sendiri. Tetapi gue percaya kok semua itu akan sia-sia kalau kontrol utamanya balik lagi berada di dalam diri kita. Gue sangat bersyukur sih masih memiliki klien dan rekan kerja yang bisa menunggua respon whatsapp gue. Karena momen membalas cepat semua pesan hany akan terjadi ketika gue sedang berada di jam kerja. Jadi gue selalu mengingatkan ke calon klien dan bahkan klien yang sedang berlangsung untuk memaklumkan ketika hari sabtu, minggu dan public holiday akan sangat slow respon dari gue. Itu semua gue lakukan untuk memberikan ruang terhadap diri gue supaya masih memiliki energi untuk aktif kembali di esok hari. Memang akan selalu ada hal baru di setiap tahun, bukan resolusi yang gue buat melainkan kebiasaan baru yang akan membuat gue lebih baik dari versi gue sebelumnya.
Terima kasih sudah membaca, Dodo Harahap, 29 tahun, masih menerapkan slow living fast respond.